Mengagamakan Politik: Mungkinkah?


great-friends2

Akhir-akhir ini kegiatan beragama sepertinya sedang meningkat. Saking tingginya gairah keberagamaan, semua sepertinya mau dipakaikan baju agama, termasuk juga politik. Lalu pertanyaannya agama dipake untuk kepentingan politik ataukah politik yang dibuat lebih santun dengan memakai baju agama? Buat saya, saya lebih suka bila agama tetap berada di tempatnya, berfungsi sebagai penunjuk jalan dan rambu dalam kehidupan. Agama jangan pernah masuk dalam ranah politik apalagi kok kemudian agama sampai dipolitisir. Dosa sekali. Politik tak usah dibuat santun dengan diberi label agama. Politik tetap politik. Segalanya halal dalam politik. Para sesepuh yang berhak mendidik dalam masalah agama sudahlah tetap tinggal di tempat. Tak usah ikut berpolitik. Tidak usah mendekati para penguasa apalagi bila kemudian sampai ikut-ikutan mendirikan partai politik. Mereka sebaiknya tetap tinggal di tempat untuk mendidik akhlak dan budi pekerti para penguasa sehingga bila para penguasa itu diberikan kekuasaan untuk membuat keputusan, keputusan yang diambil merupakan keputusan yang bijak dan menguntungkan bagi semua pihak. Inti agama adalah membentuk akhlak yang baik. Semakin bagus agama seseorang maka semakin bagus akhlaknya sehingga bukan fanatik sempit lagi yang terjadi.

Namun bagaimana bila ternyata agama mulai memasuki ranah politik? Maka siap-siaplah agama yang jadi korban. Agama akan mudah dipolitisir dan orang-orang yang berada di dalamnya tak lebih hanya akan menjadi orang-orang yang munafik. Kenapa bisa? Karena politik itu kotor. Dalam politik tidak ada kata lawan dan juga tidak ada kata kawan. Kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan. Dalam politik yang ada hanyalah kepentingan bersama. Jadi terbayanglah, bila agama yang indah dan suci itu masuk ke dalam sebuah ranah bernama politik, maka politik hanya akan mengotori agama yang suci itu.

Ketika politik berusaha disantunkan dengan memakai nama agama, yang terjadi adalah kemunafikan. Dalam politik semuanya bisa terjadi. Mantan penguasa yang korup dan jelas-jelas menjadi dalang kebobrokan ekonomi sebuah negara bisa mendadak dipuja dan bahkan berbalik rupa dijadikan pahlawan oleh sebuah organisasi politik yang berlandaskan agama. Sebuah organisasi politik yang jelas-jelas membenci korupsi dan berjanji akan memberantas korupsi dalam setiap jargon kampanyenya. Lalu kenapa bisa begitu? Kenapa jadi terkesan munafik seperti itu? Tak lain dan tak bukan adalah karena politik tak mengenal kata kawan ataupun lawan. Yang ada hanyalah kepentingan bersama. Bila dengan cara memuja sang tokoh yang dikenal korup itu dapat menarik simpati para pemujanya demi tercapainya suara yang banyak dalam pemilu (dan kalo bisa juga dana) maka kenapa tidak? Yang penting tujuan tercapai, apa pun caranya.

in-happier-times1

Lalu sekarang apa masalahnya sih? Memangnya tidak boleh bagi sebuah organisasi politik untuk mengangkat seorang yang dituduh koruptor sebagai pahlawan? Ya bukan begitu siih… Soal pahlawan atau tidak pahlawan kan hanya soal persepsi. Seorang rampok bisa jadi adalah pahlawan bagi keluarganya tetapi jelas bukan pahlawan bagi yang dirampok dan tentunya bagi polisi. Yang jadi masalah di sini sebenarnya adalah karena organisasi politik yang merangkul itu jelas-jelas mengiklankan dirinya sebagai organisasi politik yang bersih dari berbagai prilaku dan bentuk korupsi. Organisasi politik itu mencitrakan dirinya sebagai organisasi yang berlandaskan pada satu agama tertentu dimana orang-orang didalamnya juga dicitrakan sebagai orang-orang yang teguh dalam menjalankan ajaran agamanya.

Tetapi ketika kemudian iklan kampanye diam-diamnya di sebuah televisi malah meletakkan sebuah ikon pelaku korupsi sebagai pahlawan, maka kembali orang-orang hanya dapat menghela napas dan berkesimpulan sama. “Dasar politik…tak kenal kawan, tak kenal lawan. Semua halal demi tercapainya satu tujuan.” Apalagi kemudian di sebuah situsnya, pemimpin dari organisasi politik tersebut masih juga membela diri dengan mengatakan bahwa sebagai orang yang beragama kita harus bisa memaafkan perbuatan tokoh yang dianggap korup dalam iklan tersebut. Waduh… kok harus dimaafkan sih…berarti memang ada kesalahan yang telah diperbuat…

Kalau menurut saya sebaiknya sih jangan pernah ada sebuah organisasi politik yang berlandaskan agama karena agama adalah hal yang sangat sensitif dan personal. Agama adalah sebuah ruang pribadi antara makhluk dengan Tuhannya yang dampaknya harus terasa indah bagi sekitarnya. Agama jangan diikutkan dalam sebuah permainan kotor bernama politik. Politik itu tak akan pernah bisa santun dan bersih walaupun sudah diberi baju bernama agama. Jadi sebaiknya, politik tak usah berbaju apalagi sampai kemudian malah terbalik, agama dipolitisir. Cukup akhlak manusia yang berpolitik saja yang diperbaiki moralnya dan agamanya, dan caranya pun tak perlu lewat organisasi politik yang mengatasnamakan agama tertentu. Bila ada iklan di televisi yang menggemborkan jargon, “Stop Korupsi..” maka saya ingin sekali menggemborkan jargon, “Stop kemunafikan dan mengagamakan politik….”


5 thoughts on “Mengagamakan Politik: Mungkinkah?

  1. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

  2. betul… politik atas nama agama itu nggak pantas… menodai kesucian dan merusak citra agama…

    Munyuk Mentel berkata:
    Setojooooh….

  3. kalo mau kekuasaan, jujur aja… ga ada yang nyuruh kalian untuk pura2 suci kok… keberatan image ya… munafik kan bikin gigi senut2…

    Munyuk Mentel berkata:
    Benuuulll….eh Betooooollll……

  4. bukankah penyebaran agama ISlam tidak bisa dipisahkan dari politik juga….

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:
    Oh ya?… Mungkin bisa sekalian kasi link utk argumennya?…

  5. Apalagi bila sampai menggunakan atribut keagamaan demi menutupi perbuatannya yg korup…

    Makhluk Maniez aka Munyuk Mentel replies:

    Setojooooohhhhhhhhh…… Smoga gak jadi tren…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s