Sinetron Indonesia: Kok Bikin Gemes Seeeeh….


“Jangan lihat siapa yang mengatakan, tetapi lihatlah apa yang dikatakan” adalah satu kalimat bijak yang biasa kita dengar. Karenanya saya senang sekali ngobrol dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan berbagai profesi, bahkan dari berbagai tingkatan umur. Dari obrolan itu seringkali ada berbagai ide maupun hal-hal baru yang dapat dipetik manfaatnya, bahkan seringkali dapat menjadi bahan untuk postingan dalam blog saya ini. Entah mengapa ada beberapa obrolan yang seringkali menyerempet pada hal-hal mengganjal dalam sinetron Indonesia yang bikin sinetron Indonesia jadi malas untuk ditonton. Kemudian dari banyaknya obrolan ada kesamaan pendapat tentang sinetron Indonesia; Sinetron Indonesia bikin gemes deeeh…. Alias bikin orang terpacu untuk mengkritik.

Sewaktu saya ngobrol dengan sepupu yang masih duduk di bangku SMA, keluhan yang terlontar dari bibirnya adalah, “Ah sinetron sekarang, nama dari A sampai Z ada semua di judul sinetron.” Kata-katanya ini pun membuat saya penasaran hingga langsung mengadakan survey kecil-kecilan, dan ternyata apa yang ia katakan memang benar. Diantara sinetron-sinetron yang tayang di televisi berjudul antara lain; Aqsa dan Madina, Chelsea, Candy, Intan, Jihan, Karisa, Khansa, Kanaya, Larasati, Monalisa, Mat Toing, Olivia, Sissy Putri Duyung, Wulan, Yasmin. Tuh kan…semuanya adaaaa… Kenapa bisa begitu yaaaa??? Malah lucunya lagi ada stasiun tivi yang judul sinetronnya sebagian besar berupa nama orang semua.

Lalu apakah judul-judul sinetron itu mempunyai cerita yang juga mirip satu sama lainnya ataukah tidak, saya tidak tahu karena terus terang saya tidak suka menonton sinetron Indonesia yang buat saya banyak yang tidak masuk akalnya. Kalau yang saya liat, pemilihan pemain untuk sebuah peran dalam sebuah sinetron seringkali sepertinya dilakukan tanpa melalui pertimbangan yang matang. Dalam soal pemilihan pelaku peran misalnya, umur orang yang memerankan diri sebagai ayah dengan umur mereka yang memerankan diri sebagai anak sama. Jadi anak dan bapak sama mudanya.Trus si bapak itu kira-kira kawinnyah kapaaaaan? Seringkali, seorang anak yang wajahnya lebih pantas untuk menjadi murid SMA kelas satu sudah disuruh memerankan seorang direktur berpengalaman yang sudah berumur sekitar 28 tahunan. Dari situ saja, penonton sudah merasa seperti dibodohi.

Saya termasuk orang yang tidak suka nonton sinetron Indonesia dan karenanya tidak begitu mengikuti perkembangan sinetron. Barulah ketika ngobrol dengan seorang karyawan dari sebuah stasiun TV swasta, saya mendapatkan sebuah istilah baru, yaitu “Me Too Program” yang maksudnya sinetron-sinetron tersebut cenderung mengekor kesuksesan rating sinetron sebelumnya dengan ide cerita yang sama, bahkan kalau perlu dengan pemain yang sama. Sehingga ketika sinetron berjudul Liontin mendapatkan rating yang cukup bagus, ada pula sinetron lain yang berjudul Cincin. Kenapa bisa begitu ya? Apakah karena produsernya sama? Ataukah karena penulis ceritanya sama? Atau kurangnya kreatifitas dan sempitnya waktu untuk berkreasi karena dikejar deadline? Atau mungkin sekali hanya karena gak mau repot mencari ide baru dan sekedar memenuhi selera pasar?

Terus terang saya tidak tahu jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi keliatannya sih seperti itu. Seperti misalnya sebuah sinetron tentang anak idiot di salah satu stasiun TV swasta melonjak ratingnya, maka stasiun TV yang lain pun akan mengikutinya dengan ide cerita yang serupa. Demikian pula dengan tema cerita wanita yang menyamar sebagai pria (walaupun di tv tetap saja terlihat kalo dia wanita) melonjak ratingnya maka besok-besok stasiun TV yang lain juga akan menayangkan sinetron dengan tema yang sama. Begitu pula dengan sinetron yang bertema religius, maka semua stasiun tivi langsung menayangkan sinetron-sinetron dengan tema religius. Bete gak seeeh..??? Ya dah persis seperti film-film Indonesia di bioskop sekarang. Begitu film bertema horor lagi laku, langsung deh semua film Indonesia di bioskop bertemakan horor.

Mengkritik sinetron Indonesia pastinya tak akan habisnya, tapi walau bagaimana kritik yang membangun tetap bagus untuk dijadikan masukan sehingga lambat laun bisa membuat sinetron Indonesia lebih digemari bahkan kalo perlu jadi go international. Sayangnya dengan alur cerita yang kurang kuat, selalu saja masih dibumbui dengan keganjilan-keganjilan kecil yang menggelitik. Ketika ngobrol dengan seorang yang berprofesi sebagai polisi, kritik yang terlontar untuk sinetron Indonesia adalah soal hal yang berhubungan dengan profesinya sebagai polisi. Ia berkata, “Saya heran kenapa sih kalo di sinetron-sinetron yang menangkap penjahat itu selalu polisi yang berpakaian dinas lengkap. Padahal dalam sistem kepolisian yang sebenarnya, yang menangkap penjahat itu bukannya polisi yang berpakaian dinas lengkap atau biasa disebut Samapta, tetapi adalah Reserse. Reserse itu tidak pernah berpakaian seragam polisi. Dalam tugasnya menangkap penjahat, mereka selalu berpakaian preman.” Ia lalu melanjutkan, “Dan ketika melihat kejadian di sinetron yang selalu saja diperlihatkan polisi berpakaian lengkap yang menangkap penjahat, saya jadi gemes sendiri.”

Hal-hal kecil dalam sebuah sinetron yang kurang tergarap dengan baik bisa sangat mengurangi kenikmatan dalam menonton sebuah sinetron ataupun film. Seperti misalnya seorang teman yang tahu betul dengan ciri khas orang Mesir dalam membaca Al Quran misalnya, jadi cuma gemes sendiri ketika seorang pemeran Maria dalam film Ayat-Ayat Cinta membaca Surat Maryam dengan gaya yang total berbeda dengan gaya baca Al Quran yang lazim dilakukan oleh orang Mesir. “Orang Mesir mah baca qurannya gak kayak gitu” Begitu ia berkomentar.

Ia pun pernah lama tinggal di India sehingga ia rasanya tidak tahan untuk mengkritik ketika ia melihat unta yang dipakai adalah unta India bukan unta Mesir sehingga si unta India itu bagaikan foreigner di sebuah negeri asing bernama Mesir. Kasihan untanya ya… Sebagai unta yang baik pastinya ia tak punya maksud sedikit pun untuk membuat sebuah film jadi sedikit mengganjal. “Gue kenal bangets sama unta India” Begitu katanya pada saya (Kalo sama orang Indianya gimana buuuu…? Kenal bangets gaaaaaaak? Wkekekekekkek….Tapi kalo yang ini off the record). Ia pun lalu menambahkan, “Dan jilbab yang dipakai si Aisya itu lhooo… Bukan jilbabnya orang Mesir…”

Mungkin kalo boleh menganalogikan perasaan si teman saat melihat keganjilan itu, rasanya adalah seperti menonton film perang antara Belanda dan Indonesia dimana yang jadi pemeran pasukan Belanda adalah orang Indonesia juga, Cuma dipirangin rambutnya aja untuk ngasi kesan bahwa mereka sedang berperan sebagai tentara Belanda. Tetapi para penonton pastinya tidak bisa dibohongi kalo mereka masih jelas terlihat sebagai orang Indonesia. Ya iyalaaaaaaaaaah…. Seperti itulah kira-kira perasaan teman saya saat melihat unta India yang ditaro sebagai pelengkap seting untuk menunjukkan kesan sebuah Negara di Timur Tengah. Tapi untuk rumah si Aisya dalam film Ayat-Ayat Cinta boleh diacungi jempol, karena sebuah rumah di tengah kota Jakarta bisa mewakili seting sebuah rumah di Mesir. Kalo itu sih emank rumahnya yang ok punya, karena pembangunannya saja bertahap dan memakan waktu beberapa tahun. Arsiteknya pun khusus diterbangkan ke Mesir untuk membuat desain yang mirip dengan rumah yang ada di Timur Tengah.

Kritik ini sebenarnya timbul dari rasa cinta yang ingin melihat sinetron Indonesia bisa sejajar kualitasnya seperti sinetron dari Korea, Hongkong dan Jepang, baik dari segi kekuatan ceritanya ataupun kualitas dan pemilihan para pemerannya. Mungkin sinetron-sinetron mereka tak luput dari keganjilan, tetapi cerita yang menarik dan kekuatan akting para pelakunya bisa saling menutupi. Entahlah, mungkin hanya saya saja atau pun ada orang lain yang sependapat dengan saya untuk berkata, “Jangan bodohi kami para penonton sinetron…. Karena penonton sinetron bukan penonton film kartun. Kami tidak biasa memaklumi sebuah keganjilan yang bisa mengganggu logika dan kenikmatan menonton… Sinetron yang bagus adalah sinetron yang bisa membuat penontonnya lupa bahwa itu hanyalah sinetron. Karena apa? Karena sinetron yang baik bisa membuat penontonnya untuk larut dalam cerita dan tidak mengeluarkan protes sepanjang sinetron itu ditayangkan…

3 thoughts on “Sinetron Indonesia: Kok Bikin Gemes Seeeeh….

  1. sinetron indonesia merusak jaringan2 otak saya… dan bikin sedih karena semakin banyak dan vulgar orang2 di industri sinetron ini yang mencabuli seni peran dan seni pertunjukan dengan bangga. memperkosa kemudian dirayakan dan dibiarkan berlalu. mereka itu seperti memarkirkan truk sampah di rumah orang, terus sampah2 bau-nya dibuang menggunung ke rumah itu, dan orang yang punya rumah tepuk tangan girang.

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:
    Setojooooh… Sayah sangat setojooooh….
    Kayaknya Indonesia perlu lebih banyak orang-orang seni yang idealis sehingga karya seni yang dihasilkannya bisa membawa manfaat bagi orang banyak baik dari segi moral maupun hiburan

  2. hapuskan sinetron tidak bermutu dari televisi indonesia

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:
    Wah kalo ituh sayah Setojooooooooh bangeeeeets…. Sinetron tak bermutu sama dengan pembodohan bangsa yang dimulai dari rumah sendiri…

  3. megawati juga sebel ilustrasi perempuan indonesia lewat sinetron. menurutnya, perempuan indonesia kan ga kayak gituu

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Jadiiii perempuan Indonesia entuh idealnyah kayak sayah yaaaaakkk…. ga..ga..ga…
    (lho..kok tiba-tiba ada nyang pengsan…😆 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s