Teroris Itu Ternyata Bernama Israel


Ketika kita sedang bersenang-senang dengan keluarga dan kerabat merayakan indahnya malam pergantian tahun, di belahan bumi lain ada saudara-saudara kita yang sedang menderita. Ketika kita sedang memandang indahnya langit yang dipenuhi dengan kembang api yang menandai pergantian tahun Masehi, di belahan bumi lain ada saudara-saudara kita yang hanya dapat memandang langit yang telah dipenuhi oleh kepulan asap bom yang meledak.

Ketika kita sedang berada di rumah kita yang nyaman, di belahan bumi lain ada orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal karena rumah mereka sudah hancur karena bom. Orang-orang itu pun tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan orang-orang yang mereka sayangi; ada yang kehilangan orang tua, anak, istri atau suami. Ketika kita sedang menyantap makanan enak, di belahan dunia lain ada orang-orang yang tidak bisa makan karena perang telah menghambat jalannya transportasi bahan pangan. Mereka yang tinggal di jalur Gaza, Palestina, adalah orang-orang yang sedang menderita akibat kekejaman suatu kaum. Kaum yang mengatasnamakan dirinya dengan sebuah nama, Israel.

agresi-israel1

Sebagai sebuah bangsa, Israel adalah bangsa yang kejam dan pengecut. Tanpa belas kasihan dan hati nurani, dijatuhkannya bom ke pemukiman penduduk tepat di malam hari di saat orang-orang lengah dan tertidur. Akhirnya banyak korban yang terdiri dari wanita dan anak-anak berjatuhan. Dan Israel pun tanpa hati nurani tetap berbangga hati. Bahkan dengan pongahnya mengatakan bahwa itulah balasan untuk serangan dari pasukan Hamas. Demi memerangi pasukan Hamas, pemboman bertubi-tubi ke daerah pemukiman penduduk dilakukan hingga mengakibatkan banyak korban sipil yang berjatuhan yang terdiri dari wanita dan anak-anak. Sungguh suatu bentuk tindakan pengecut yang tiada duanya. Mungkin jika ada sebuah “piala” bagi tindakan yang amat sangat pengecut, maka Israellah yang akan menjadi pemenangnya.

mantan-pm-belandaSekutu Israel terbesar dan terkenal adalah Amerika. Amerika adalah negara yang pemerintahnya selalu menggembar gemborkan diri sebagai negara yang paling demokratis, bahkan seringkali kebablasan dengan mengangkat dirinya menjadi polisi dunia. Ia mengganggap dirinya sebagai negara yang paling mendukung HAM, padahal dalam kasus Irak, Amerika jelas-jelas sebagai negara yang melanggar HAM. Ia pun tanpa malu-malu dan sungkan telah menuduh Sadam Husein melanggar HAM, sehingga dengan alasan tersebut maka Amerika pun langsung buru-buru menginvasi Irak. Dalih yang sebenarnya adalah sebuah kedok agar Irak tak lagi berjaya ikut mengatur harga minyak. Sebagai negara yang dikenal mendukung Israel dalam kasus seperti ini dimana Israel telah jelas-jelas melanggar HAM, maka Amerika pun hanya diam seribu basa. Amerika sebagai pasukan keamanan PBB memang dikenal selalu menggunakan standar ganda dalam setiap aksinya yang sangat membuat geram negara-negara lain di dunia. Di mata pemerintah Amerika, Israel tak pernah bersalah, tak peduli betapa kejamnya tindakan yang mereka lakukan.

Ada pesan bijak yang sering saya dengar mengenai bagaimana kita harus bersikap terhadap kedzaliman yang terjadi. Ketika kau melihat kedzaliman di depan mata, maka berusahalah kau cegah dengan tanganmu (artinya di sini adalah dengan menggunakan kekuasaan yang ada bila kita punya). Bila kau tak dapat mencegahnya dengan tanganmu, maka cegahlah dengan lisanmu. Bila kau tak dapat mencegahnya dengan lisanmu, maka cegahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemahnya iman. Sungguh, ketika kita melihat Israel dengan pongahnya mendzalimi Palestina dan kita tak punya kekuasaan apa pun untuk membantunya, setidaknya ada doa yang bisa kita panjatkan agar mereka yang tidak berdosa di daratan Palestina mendapatkan kekuatan dan juga kemenangan. Dan kita juga berdoa sehingga kedzaliman seperti itu tak terulang lagi terhadap negara mana pun juga.

Paul Craig Robert menuliskan sebuah artikel yang sangat bagus mengenai berbagai kedegilan pemerintahan Israel dan juga pemerintahan Amerika.

December 30, 2008

America’s Crimes “Never Happened”

May We No Longer Be Silent

By PAUL CRAIG ROBERTS

The title of my article comes from the sermon of the Episcopal Bishop of Washington DC, John Bryson Chane, delivered on October 5, 2008, at St. Columba Church.  The bishop’s eyes were opened to Israel’s persecution of Palestinians by his recent trip to Palestine.  In his sermon he called on “politicians seeking the highest office in [our] land” to find the courage to “speak out and condemn violations of human rights and religious freedom denied to Palestinian Christians and Muslims” by the state of Israel.

Bishop Chane’s courage was to no avail.  When America’s new leader of “change” was informed of Israel’s massive air attack on the Gaza Ghetto, an area of 139 square miles where Israel confines 1.4 million Arabs and tightly controls the inflow of all resources–food, medicine, water, energy–America’s president-elect Obama had “no comment.”

According to the Jerusalem Post ( December 26), “at 11:30 a.m., more than 50 fighter jets and attack helicopters swept into Gazan airspace and dropped more than 100 bombs on 50 targets. . . . Thirty minutes later, a second wave of 60 jets and helicopters struck at 60 targets . . . More than 170 targets were hit by IAF aircraft throughout the day. At least 230 Gazans were killed and over 780 were wounded . . .”

As I write, news reports are that Israel is sending tanks and infantry reinforcements in preparation for a ground invasion of Gaza.

Israel’s excuse for its violence is that from time to time the Palestinian resistance organization, Hamas, fires off rockets into Israel to protest the ghetto life that Israel imposes on Gazans.  The rockets are ineffectual for the most part and seldom claim Israeli casualties.  However, the real purpose for the Israeli attack is to destroy Hamas.

In 2006 the US insisted that the Palestinians in Gaza and the West Bank hold free elections.  When free elections were held, Hamas won.  This was unacceptable to the Americans and Israelis.  In the West Bank, the Americans and Israelis imposed a puppet government, but Hamas held on in Gaza.  After unheeded warnings to the Gazans to rid themselves of Hamas and accept a puppet government, Israel has decided to destroy the freely elected government with violence.

Ehud Barak, who is overseeing the latest act of Israeli aggression, said in interviews addressed to the British and American publics that asking Israel to agree to a ceasefire with Hamas would be like asking the US to agree to a ceasefire with al Qaeda.  The terrorism that Israel inflicts on Palestinians goes unremarked.

According to the London Times (December 28), “Britain and the United States were on a collision course with their European allies last night after refusing to call for an end to Israeli airstrikes on Hamas targets in Gaza. The wave of attacks marked a violent end to President George W. Bush’s sporadic Middle East peace efforts.  The White House put the blame squarely on Hamas.”  The British government also blamed Hamas.

For the US and UK governments, Israel can do no wrong.  Israel doesn’t have to stop withholding food, medicine, water, and energy, but Hamas must stop protesting by firing off rockets.  In violation of international law, Israel can drive West Bank Palestinians off their lands and out of their villages and give the stolen properties to “settlers.”  Israel can delay Palestinians in need of emergency medical care at checkpoints until their lives ebb away.  Israeli snipers can get their jollies murdering Palestinian children.

The Great Moral Anglo-Americans couldn’t care less.

In his 2005 Nobel Lecture, British playwright Harold Pinter held the United States and its British puppet state accountable for “the systematic brutality, the widespread atrocities, the ruthless suppression of independent thought.”  Everyone knows that such crimes occurred in the Soviet Union and in its East European empire, but “US crimes in the same period have only been superficially recorded, let alone documented, let alone acknowledged, let alone recognized as crimes at all,” this despite the fact that “the United States’ actions throughout the world made it clear that it had concluded it had carte blanche to do what it liked.”

Soviet crimes, like Nazi ones, are documented in gruesome detail, but America’s crimes “never happened. Nothing ever happened. Even while it was happening it wasn’t happening. It didn’t matter. It was of no interest. The crimes of the United States have been systematic, constant, vicious, remorseless, but very few people have actually talked about them You have to hand it to America. It has exercised a clinical manipulation of power worldwide while masquerading as a force for universal good. It’s a brilliant, even witty, highly successful act of hypnosis.”

America’s is “a scintillating stratagem. Language is actually employed to keep thought at bay. The words ‘the American people’ provide a truly voluptuous cushion of reassurance. You don’t need to think.”

Pinter presents a long list of American crimes and comes to Iraq:  “The invasion of Iraq was a bandit act, an act of blatant state terrorism, demonstrating absolute contempt for the concept of international law. The invasion was . . . an act intended to consolidate American military and economic control of the Middle East masquerading–as a last resort–all other justifications having failed to justify themselves–as liberation.”  Americans and their British puppets “have brought torture, cluster bombs, depleted uranium, innumerable acts of random murder, misery, degradation and death to the Iraqi people and call it ‘bringing freedom and democracy to the Middle East.”

“How many people do you have to kill before you qualify to be described as a mass murderer and a war criminal?”  Pinter’s question can also be asked of Israel.  Israel has been in violation of international law since 1967, protected by the United States’ veto of UN Resolutions condemning Israel for its violent, inhumane, barbaric, and illegal acts.

American evangelical Christians, who are degenerating into Zionists, are Israel’s greatest allies.  Jesus is forsaken as Christians swallow whole the Israeli lies. A couple of years ago the US Presbyterian Church was so distressed by Israel’s immorality toward Palestinians that the church attempted to disinvest its investment portfolio from assets tainted with Israel.  But the Israel Lobby was stronger.  The Presbyterian Church was unable to stand up for Christian principles and knuckled under to the Israel Lobby’s pressure.

This is hardly surprising considering that the US government doesn’t stand for Christian principles either.

America’s doctrine of “full spectrum dominance” means that, like Lenin’s dictatorship, America is not bound by law or morality, but by power alone.

Pinter sums it up in a speech he had dreams of writing for President George W. Bush:

“God is good. God is great. God is good. My God is good. Bin Laden’s God is bad. His is a bad God. Saddam’s God was bad, except he didn’t have one. He was a barbarian. We are not barbarians. We don’t chop people’s heads off. We believe in freedom. So does God. I am not a barbarian. I am the democratically elected leader of a freedom-loving democracy. We are a compassionate society. We give compassionate electrocution and compassionate lethal injection. We are a great nation. I am not a dictator. He is. I am not a barbarian. He is. And he is. They all are. I possess moral authority. You see this fist? This is my moral authority. And don’t you forget it.”

If only our ears could hear, this is the speech we have been hearing from Israel for 60 years.

Paul Craig Roberts was Assistant Secretary of the Treasury in the Reagan administration. He is coauthor of The Tyranny of Good Intentions.He can be reached at: PaulCraigRoberts@yahoo.com


11 thoughts on “Teroris Itu Ternyata Bernama Israel

  1. namanya juga sudah digariskan bahwa yahudi dan islam gak bakalan pernah akur……

    kalau sampai israel dan palestina damai berarti kiamat sudah datang

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:
    Persoalan yang sebenarnya adalah tujuan Israel yang mau melakukan pembasmian etnik atau genosida seperti yang pernah dilakukan dengan kejamnya oleh Hitler kepada kaum Yahudi atau pun yang pernah dilakukan oleh Serbia kepada warga muslim Bosnia.
    Harus ada sebuah tindakan tegas dari dunia internasional untuk menghentikan agresi Israel agar segala bentuk kekerasan dan pembasmian etnik itu tak lagi terulang karena tak boleh ada satu bangsa pun yang berhak menindas bangsa lainnya, baik dengan alasan apa pun juga. Tidak bisakah kita hidup damai berdampingan tanpa saling menyakiti dalam koridor kita masing-masing…??? Hmm… Indahnya bila di dunia ini tak ada perang. Tiba-tiba kok sayah jadi teringat judul lagunya Skeeter Davis dan Bobby Bare, “Let’s Make Love Not War”😀 Kan lebih enak tuuuh… Jangan perang molooo… Besides, What are we fighting for????

  2. Bener bgt,bila yahudi dan islam tidak akan pernah damai,ALLAH yg mengkehendaki itu,bagaimana tidak? ALLAH menjanjikan tanah suci kepada israel dari zaman musa,sementara tanah suci di diami oleh arab,ALLAH memerintahkan memusnahkan semua yg menghalangi perintahNYA,masalah anak”dan perempuan jadi korban adalah bagian rencana ALLAH.

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Berarti situ setojoh dunks dengan segala bentuk pembasmian etnik seperti yang pernah dilakukan Hitler pada kaum Yahudi…??? Kalau Tuhan sayah kebetulan sih tidak pernah bagi-bagi tanah sehingga bisa menimbulkan keributan seperti yang terjadi sekarang inih.
    Bumi katanyah disediakan untuk kesejahteraan makhluk-Nya yang nantinya pasti akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pemakaiannya.
    Tuhan sayah telah menetapkan bahwa Islam ituh rahmat bagi seluruh alam. Jadi.. biarpun kepada kaum Yahudi, orang Islam itu tetaplah harus berlaku adil dan baik bila mereka tidak mengganggu dan menyerang orang Islam, dan Rasullulah SAW telah mencontohkan itu. Pada jaman Rasullulah SAW, orang Yahudi tetap dapat hidup dengan damai dan tidak diganggu sedikit pun. Di dalam Islam, perbuatan dan sikap adil itu dapat mendekatkan manusia kepada pencipta-Nya dan membuat manusia itu dicintai oleh-Nya. Begetooooh…. Semoga selalu ada damai di bumi…🙂

  3. Berapa banyak lagi nyawa, dari semua pihak, yang harus dikorbankan untuk keserakahan, kesombongan, keegoisan, dan kedengkian manusia?
    Hanya ada satu cara yang paling efektif untuk mengatasi semua permasalahan yang ada saat ini dengan damai, adil, dan bijaksana!
    Tegakkan Khilafah!
    Satukan seluruh umat manusia untuk meraih kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan di muka bumi ini!
    Semoga Allah menjadikan tahun yang baru ini sebagai tahun yang lebih baik bagi kita semua.

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Amiiin… Semoga tahun yang baru ini sebagai tahun yang lebih baik bagi kita semua.
    Tentang Khilafah?? Wah.. sayah rasa sistim pemerintahan yang sekarang dimana pluralitas tetap terjaga masih cukup baik kok, tak perlu diubah lagi. Kalo hanya ingin menghilangkan korupsi sih sebenarnya hanya kembali ke mental dan moral para pejabat yang diserahi tugas mengatur negeri ini. Apapun sistim pemerintahannya, selama moralnya masih bobrok, tetap saja negaranya gak bisa maju. Singapura, misalnya, tidak perlu memakai sistim pemerintahan khilafah tetapi korupsi dan kolusi sangat sepi di negara itu, dan semua itu kembali ke mental para pejabatnya.
    Ada sebuah institusi yang akan jatuh akibat banyaknya kebocoran keuangan di sana sini sehingga akhirnya dipilihlah sebuah sistim manajemen baru yang dipercaya bisa memperbaiki berbagai bentuk korupsi dan kebocoran yang ada. Sistim manajemen Balanced Score Card namanya. Sistim manajemen baru yang terkomputerisasi dan mempunyai SOP yang dirancang baik dalam segala aktivitas institusinya, ternyata… setelah diaplikasikan tak juga dapat menghilangkan korupsi yang ada. Korupsi yang telah berlangsung lama hanyalah berganti muka menjadi lebih sistimatis sehingga belum bisa berhasil membuat institusi itu untuk bangkit maju dan berkembang. Toh segala sistim yang ada itu juga dibuat oleh manusia dan kembali dijalankan oleh manusia sehingga bila orang-orangnya tetap sama dan bermental sama, ya… apapun sistim baru yang diterapkan, hasilnya tetaplah sama.

  4. yah bentullll….
    israel memang teroris kemanusiaan………
    Mari GANYANG ISRAEL….
    *mampu gak ya?*

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Dewan Keamanan PBB seharusnya berbuat sesuatu, gak cuma mengadakan pertemuan yang hasilnya nihil. Btw, Amerika yang sering berkoar-koar tentang HAM dan demokrasi, kok gak kedengeran suaranya yak? Hmm.. Ternyata..berlaku adil itu susah… 🙂

  5. bukan yahudi dan islam sebagai agama, guys…. ini soal zionis dan hamas. politik.

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Setojooooh… Ini juga soal kekuasaan, perebutan tanah, keserakahan dan unjuk kekuatan…. Tapi karena ini adalah kedzaliman, ada baiknya kalau kita juga berbuat sesuatu untuk menolak kedzaliman. Berhubung kita bukanlah termasuk negara super power, ya paling banter yg bisa kita lakukan adalah berdoa agar yang benar itu benar dan yang bathil itu musnah.

  6. Perayalah,untuk sekarang blum waktu nya israel kalah, walaupun dunia mengepung israel, semua itu rencana Allah, Allah menciptakan hamas jadi kelompok PENGECUT yg suka menembakkan roket dari pemukiman sipil,dan sembunyi di belakang anak2, seandainya indonesia di posisi israel,indonesia juga melakukan hal yg sama,seperti tugas TNI,melindungi rakyat dan negara NKRI,jadi ga salah sama sekali Israel,so Hidup Israel,BANGSA ALLAH ABRAHAM MUSA DAUD SALOMON ISA, ALLAH MENGUTUS BANYAK NABI UNTUK KEBEBASAN DAN KEJAYAAN SANG BANGSA THE GREAT “ISRAEL” YEHUDAH

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Dan Israel tak kalah PENGECUTNYA dengan mengebom rumah sakit anak-anak….
    Btw, sayah malah jadi heran.. kok ada sih tuhan yang mengkampanyekan genosida ???
    Ini tuhan pastinyah gak pernah kenal sama yg namanya HAM wkwkwkwk…
    Tapi gak pha-pha… Tulisan ini tidak akan saya hapus sebagai bukti otentik betapa tuhan yg situh percaya ternyata bisa salah perhitungan jugak he..he..he… Lho lha iya tho… kalo Palestina menang kan berarti tuhan situh salah perhitungan😀

    Coba bedakan dengan salah satu ayat dalam Al Quran yang bunyinya:

    “Dan Kami ciptakan manusia berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal…”

    Tuh..kan untuk saling mengenal bukannya untuk saling membunuh…. bahkan sampai menghilangkan satu bangsa. Ih gak bangets deh….

  7. ALLAH MENGUTUS BANYAK NABI UNTUK MELURUSKAN SANG BANGSA THE GREAT “ISRAEL” YEHUDAH

    PEACE😀

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    He..he..he… Peace Jugaaaaak….. Semoga selalu ada damai di bumi, dan juga di dalam hati….

  8. Semua kejadian ini adalah rencana Allah..
    dan saya percaya bahwa kemenangan Islam ini benar-benar akan datang sebagaimana telah Tuhan saya janjikan..

    dan kita sebagai saudara muslim mereka sudah seharusnya membantu..🙂

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:

    Amiiin… Saya percaya Tuhan sayah tak akan membiarkan kebathilan yang dilakukan oleh Israel bertahta dengan angkuhnya…..

    Bantuan tentunya bisa dilakukan dengan berbagai macam cara…🙂

  9. Setuju sama the light bearer bilang: ini soal politik.
    Dari jaman dulu wilayah yerusalem itu potensial untuk diperebutkan.Saya ga tau apakah film Kingdom of Heaven berdasarkan sejarah atau tidak. Tapi setidaknya, ada gambaran, perang palestina dan israel mirip2 itu sebenarnya. Hanya masalah ekonomi. Namun, supaya gampang mencari dukungan, masing2 pihak (atau mungkin pihak yang punya kepentingan) membuat perang mereka seolah berlatar belakang agama. Kita di Indonesia terpancing dengan isu agama tersebut.

    Saran saya untuk saudara Kristen: mari dukung perdamaian di sana, dengan tidak memberikan devisa bagi israel !!! Kunjungan ziarah, untuk melihat sejarah Yesus, hanya memperkaya mereka. Dan membuat mereka bisa membeli senjata lebih, untuk perang. Membuat mereka semakin merasa legal untuk menguasai yerusalem. Tanpa melihat peninggalan sejarah itu, apakah imanmu berkurang? Jangan buta dengan hal itu. Seeing is not believing. Orang yahudi di zaman Yesus lihat mujizat. Tapi mereka tetap tidak percaya. Ga usah ngoyo nyari Yesus di Yerusalem. Cari di dalam dirimu dan orang-orang (susah) di sekitarmu. Uang yang kau gunakan untuk memberi devisa kepada Israel, lebih baik kau donasikan untuk anak-anak terlantar yang banyak hidup di jalan.

    Untuk saudara muslim: mari melihat masalah dengan lebih jernih. Jangan mau diadu domba! Di Indonesia, semua orang muslim bisa berbeda pendapat soal banyak hal. Namun, mengenai palestina, banyak orang muslim memberikan dukungan, seolah mereka merasa agama Islam yang dizalimi oleh israel.
    Dampaknya? kebencian terhadap orang Kristen kan?

    Pliss deh, semua…. kita Indonesia. Mari berjuang untuk Indonesia yang majunya lamban dibanding negara tetangga. Di sini masih banyak anak kecil yang teraniaya oleh himpitan ekonomi. Nyemir sepatu cuma buat sebungkus nasi, yang dimakan bersama saudara-saudaranya.

    Masih kurang percaya? Turun ke jalan! Lihat sendiri penderitaan anak-anak bangsa Indonesia, kawan! Bayangkan generasi masa depan, bila masa kecilnya seperti itu.

    Lebih baik melakukan hal baik untuk bangsa kita. Daripada termakan isu ga jelas soal israel dan palestina.

    Pakai otak! Hidupkan nasionalisme kita!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s