Karena Anak Bukanlah Barang


read

Ternyata tak semua orang tua senang bila anaknya membaca novel teenlit sampai berjam-jam. Membaca novel teenlit buat sebagian orang tua dianggap menghabiskan waktu dan tak ada manfaatnya.

Sebagai remaja, ada seorang anak remaja yang memang sedang gandrung-gandrungnya menghabiskan waktu untuk membaca novel-novel teenlit, yaitu kependekan dari teen literature, jenis novel ringan yang target pembacanya adalah remaja. Soal isinya? Yaaa biasanya sih cerita ringan yang tidak jauh dari persoalan yang menyangkut cinta dan kehidupan remaja.  Soal buku teenlit, ada yang berkomentar, “Malah kalo saya perhatikan, novel-novel yang anak saya sering baca itu, tidak ada unsur motivasinya seperti yang biasa terdapat pada buku-buku perjuangan atau pun sejarah. Waktu buat saya sangat berharga. Karena itu, membaca novel, saya rasa cuma buang waktu saja.” Waduh, kalo sampai kedengeran sama para penulis novel teenlit, mereka mungkin bisa tersinggung karena dianggap telah menulis sesuatu yang sia-sia (eh..gimana nih penulis novel teenlit, bener gak sih kayak gituuu…?)

Rasanya sih tak sepenuhnya argumen yang diberikan itu benar. Orang toh butuh hiburan, dan salah satunya adalah dengan membaca. Saya malah pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa dengan membaca, orang bisa menghilangkan kadar stres yang ada. Membaca dan mempelajari sebuah karya sastra pun bisa menghaluskan rasa. Seperti halnya ketika ada orang bertanya, “Apa sih manfaatnya ngambil jurusan sastra? Kan isinya paling cuma ngebaca hasil karya orang lain.” Sesungguhnya, hasil dari mempelajari karya sastra adalah kemampuan untuk menganalisa, berpikir kritis dan berlogika.

Kalau si anak memang senang membaca novel teenlit dan orang tua takut bila si anak akan terpengaruh dengan hal-hal kurang baik yang mungkin ada dalam novel tersebut, toh orang tua bisa membantu memilihkan novel-novel teenlit yang akan dibaca. Orang tua juga bisa ikut serta memilih novel dari pengarang yang sudah terpercaya kualitas tulisannya. Bahkan kalo perlu, mereka bisa membrowsing dulu isi novel teenlit yang akan dibeli. Mungkin kalo tidak sempat, mereka bisa melihat judul novel teenlit apa yang menarik dan berkualitas dari internet. Hare gene gitu loh… jamannya internet pegang peranan. Jadi… melarang anak untuk membaca novel teenlit sama sekali bukanlah satu solusi yang bijak.

Saya bersyukur orang tua saya tidak terlalu ikut campur mengatur tiap langkah yang saya lakukan. Anak yang terlalu diatur setiap jengkal langkahnya akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Anak toh bukan barang yang bisa diletakkan sesuai dengan kehendak orang tua. Anak juga manusia yang punya perasaan, punya selera dan keinginan sendiri yang pastinya tidak selalu sama dengan apa yang diinginkan orang tua. Memang baik sih sikap orang tua yang terus menerus mengawasi dan membentuk anak sehingga diharapkan nantinya akan tumbuh menjadi seperti apa yang diinginkan oleh orang tua. Tetapi masalahnya faktor kejiwaan si anak kan tidak seharusnya menjadi korban. Anak yang terlalu dikekang dan terus menerus diatur serta diawasi selain potensial untuk tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri, juga akan menjadi anak yang tidak punya kreativitas dan inisiatif, cenderung apatis serta tak bersemangat untuk meraih cita-citanya sendiri. Padahal bangsa ini kan butuh orang-orang yang kreatif dan bersemangat juang tinggi bukannya orang-orang yang hanya menunggu diperintah untuk melakukan sesuatu.

Mengarahkan anak bukan berarti mengatur gerak-gerik anak bahkan sampai ke hal-hal yang paling detil dan prifasi dalam hidupnya. Orang tua sebaiknya cukup mengarahkan pada hal-hal yang prinsip saja, seperti pendidikan moral, etiket dan sopan santun. Semboyan berbahasa Jawa berbunyi Tut Wuri Handayani yang artinya menuntun dari belakang rasanya merupakan sebuah teori edukasi yang amat bijak. Hmm.. Hebat juga ya orang-orang tua di jaman dulu, bisa menelurkan satu buah semboyan yang amat efektif. Padahal jaman dulu berbagai teori dan penelitian di bidang psikologi belum begitu banyak seperti saat ini.

Anak bukanlah orang yang akan menggantikan segala obsesi atau pun cita-cita orang tua yang tak sempat terwujud. Jadi usaha mendril anak dengan segala hal yang tidak pernah bisa dicapai orang tua hanya akan menjadikan anak tumbuh sebagai tubuh tanpa jiwa. Ada sebuah syair yang begitu bijaknya mengungkapkan kata-kata tentang cara mendidik anak ini yang bunyinya, “Anakmu tidak dilahirkan pada jamanmu. Maka didiklah ia pada jamannya dan bukan pada jamanmu.” Melarang dan mengatur yang berlebihan pastinya sudah bukan jamannya lagi saat ini. Tuntunlah anak-anakmu dengan bijak dari belakang, peringatkan bila terlihat akan salah jalan, tapi jangan tentukan kaki mana saja yang harus ia langkahkan dalam perjalanan.

2 thoughts on “Karena Anak Bukanlah Barang

  1. kasian amat ibu dan anak dari contoh kasus di atas. anak itu kan bukan bayangan cermin orang tuanya. dan saya percaya integritas dalam jiwa manusia. kalo berat sebelah, ya ga utuh.

    Makhluk Maniez a.k.a Munyuk Mentel replies:
    Bener bangets…. Saya setujuh ituh… Dan menurut saya penggunaan otak kanan dan otak kiri sebaiknya berjalan seimbang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s