Postingan Pertama di Tahun 2010


Tahun 2009 baru saja berlalu. Saya iseng-iseng melihat-lihat lagi postingan yg telah saya buat pada tahun yang telah lewat. Ternyata postingan yang saya pasang banyak yg gak mutu, kebanyakan cuma guyon dan curhat colongan. Kadang jadi kasihan juga sama mereka yang sudah serius-serius mencari topik yang mereka inginkan tapi si mbah google malah mengarahkannya ke blog inih dan cuma disuguhi postingan nyleneh. Tapi ya udah, toh menyenangkan orang kan juga berpahala bila ternyata orang bisa tersenyum setelah membaca postingan saya.

Waktu tak terasa cepat berlalu, ada yang datang tetapi ada pula yang pergi. Dan baru-baru ini seorang bapak bangsa, bapak demokrasi dan pluralisme yang sekaligus juga ulama panutan, Gus Dur, baru saja pergi menemui Khaliknya. Beliau adalah alasan mengapa saya mau menggunakan hak suara saya pada pemilu saat itu. Padahal sebelum dan sesudahnya saya termasuk orang yang cukup konsisten dalam berlaku adil, alias tidak memilih salah satu partai ataupun calon presiden pada setiap Pemilu berlangsung. Menurut saya para pemimpin lain yang dicalonkan terlalu normal untuk memimpin Indonesia yang carut marut di berbagai sektor ini. Bangsa ini butuh pemimpin yang berani mendobrak dan berbuat sesuatu yang berarti buat rakyatnya. Mengenai kepergian Gus Dur rasanya bukan hanya saya yang merasa kehilangan tapi juga sebagian besar rakyat Indonesia terutama kaum minoritasnya ataupun juga mereka yang terpinggirkan.

Bicara soal kehilangan, saya pun jadi teringat dengan pertanyaan seorang teman yang out of the blue alias ujug-ujug alias mak jegagik alias mak bedunduk alias tiba-tiba tanpa hujan tanpa angin iseng-iseng mensurvey alias menanyakan pertanyaan yang sama pada beberapa orang sehingga mirip seperti petugas dari sebuah badan survey (wakakakak…jangan marah yak).  Gak tau juga kesambet angin apa makhluk itu. Tapi mungkin bisa saja pertanyaan itu terlontar karena tiba-tiba dia ingin tahu apakah perasaan kehilangan pada sesuatu yang tidak  pernah dimiliki wajar adanya hehehe.   Pertanyaan yang ia ajukan pada saya adalah satu, ‘Pernah tidak saya merasa kehilangan atas sesuatu yang tidak saya miliki?’  Saat itu tak terpikir dalam benak saya apakah saya memang pernah mengalami hal itu atau tidak sehingga saya tidak menjawab pertanyaan itu dengan serius. Tapi sekarang saya malah bisa bilang, sering.

Dulu ketika Cak Munir dikabarkan mati dengan dugaan dibunuh, tiba-tiba saya merasa sangat kehilangan. Malah saya pernah merasa benci kenapa dia harus mati. Rasanya tak akan ada lagi orang sekualitas Cak Munir yang berani dengan terang-terangan mengatakan hal yang benar walaupun pahit. Orang yang dengan terang-terangan berani membuka borok para penguasa dan bahkan juga para petinggi militer saat itu. Saya jelas bukan siapa-siapanya Cak Munir. Saya hanya mengenal sosok berani itu dari sepak terjangnya yang dimuat di surat kabar. Tetapi sebagai orang yang benci melihat kezaliman, saya merasa kehilangan sosok yang tangguh dan berani seperti dia.

Saya juga pernah merasa separuh hati saya pergi ketika saya mengajar di TK sewaktu jaman kuliah dulu. Entah mengapa, mungkin karena saat itu adalah saat pertama kali saya mengajar anak-anak, dan kebetulan mereka semua adalah anak-anak yang cerdas, kreatif dan tak pernah lepas memberi komentar-komentar yang lucu dan kritis. Ada saja ulah mereka yang bisa membuat saya tertawa.  Ketika mereka lulus dan harus  melanjutkan ke Sekolah Dasar, saya ingat betapa saya merasa sangat kehilangan akan wajah-wajah polos dan lucu.  Mereka jelas bukan milik saya karena saya bukanlah orang tua mereka, tetapi saat itu saya bisa merasa sangat kehilangan mereka.

Lalu ketika pertanyaannya menjadi, “Bisakah kita merasa kehilangan pada sesuatu yang tidak pernah kita miliki?” Jawabannya, bisa saja karena soal kehilangan adalah persoalan hati betapapun logika mengatakan hal seperti itu adalah hal yang tak masuk akal. Kita merasa kehilangan karena hati kita telah merasa dekat, merasa memiliki, walaupun mungkin secara fisik tidak. Namun intinya, semua yang telah kita miliki sehingga kita anggap sebagai milik kita pun sebenarnya hanyalah titipan semata dari Sang Maha Kuasa yang sewaktu-waktu bisa hilang ketika Sang Maha mengambilnya. Jangankan hanya barang atau pun orang-orang yang dikasihi, bahkan nyawa kita sendiri pun bisa dengan mudahnya hilang. Semua yang kita miliki hanyalah titipan yang harus kita jaga dan pelihara, bahkan juga umur yang kita punya.

Gilaaaaaaaaaa…. Tumben gw bijak bangets, harus pasang banner narsis dolo nih.

One thought on “Postingan Pertama di Tahun 2010

  1. saya kok jadi ndak enak sebagai teman yang out of the blue alias ujug-ujug alias mak jegagik alias mak bedunduk alias tiba-tiba tanpa hujan tanpa angin iseng😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s