Ikon Kesalehan dan Sebuah Pencitraan


Ada yang menarik di Kompas hari Minggu tanggal 4 September ini. Dalam kolom “Tetirah,” Agus Noor menulis artikelnya dengan menaruh judul, “Kami Bersurban maka Kami Beriman.”

Artikelnya itu membahas mengenai sebuah realitas semu yang terjadi sekitar bulan Ramadhan, dimana citra lebih penting dari kenyataan sebenarnya. Seperti misalnya seorang artis yang tersandung “video super artistik” namun kemudian memakai “baju sopan” berkerudung ketika memenuhi panggilan polisi. Terus terang, hal seperti ini juga kadang membuat saya bingung, kenapa sih mereka-mereka yang duduk di kursi pesakitan, seperti yang sering saya lihat melalui layar televisi, harus memakai peci atau pun kerudung ketika menjalani persidangan? Tentunya mereka memang tidak sedang melakukan sebuah politik pencitraan tapi tetap saja buat saya terasa janggal. Beratribut muslim atau tidak, tentunya tak akan mengubah apa pun. Yang salah ya tetap saja salah.

Dalam artikelnya di surat kabar tersebut, si penulis menyoroti mengenai kesalehan artifisial yang lumrah terjadi pada saat bulan Ramadhan. Dan kesalehan artifisial itu ditandai pula dengan atribut dan “ikon kesalehan” yang sayangnya hanyalah sekadar sebuah gaya, bukan merupakan cerminan dari prilaku yang baik dari pemakainya. Orang-orang bergaya memakai surban, seakan-akan itu sebuah pernyataan: kami bersurban maka kami beriman. Untuk itu, ia pun mengingatkan pembaca untuk tidak heran bila  ada pejabat yang terlihat santun dengan baju muslimnya itu serta terlihat lebih sering datang ke masjid, tetap tak berdampak apa-apa pada prilakunya yang ternyata ia santun juga dalam melakukan korupsi secara berjamaah.

Yang jadi pertanyaan saya adalah kenapa bisa timbul pencitraan itu? Kenapa bisa orang-orang memakai atribut keislaman padahal perbuatan yang dilakukan jauh bertentangan dengan nilai-nilai Islam? Semua itu karena kecenderungan manusia yang mudah menilai segala sesuatu hanya dari luarnya. Hanya dari penampilan, dan dari pakaian yang dikenakannya. Hingga akhirnya kesempatan itulah yang kemudian digunakan orang untuk memberikan pencitraan sebagai manusia yang lebih baik melalui atribut kesalehan yang dikenakannya. Maka tak heran pulalah bila suatu hari seorang keponakan yang duduk di bangku SMA berkata, “Dia itu alim lho, jilbabnya saja sampai sepantat panjangnya”  Dengan mudahnya ia mengukur kadar kedekatan seseorang pada Tuhannya hanya dari panjangnya jilbab yang dikenakan. Padahal di Arab Saudi, para wanitanya malah tidak hanya berjilbab, tapi juga memakai abaya dan bercadar. Kalau mau mengambil kesimpulan dan mengukur kadar keimanan seseorang hanya dari segi pakaian yang dikenakan, wanita-wanita di sana pastinya jauh lebih alim dari wanita-wanita yang mengenakan jilbab di sini.

Si adik itu mungkin juga lupa, bahwa bila ia ke mushola yang ada di pusat perbelanjaan di daerah Blok M, ia pasti akan melihat betapa musholanya itu selalu padat dan ramai di tiap-tiap waktu shalat dengan para mba-mba penjaga stand yang berok mini dan berstoking. Apakah karena mereka berok mini lantas mereka menjadi orang yang tak alim atau orang yang kadar keimanannya patut dipertanyakan? Disaat lapangan pekerjaan yang sulit didapat seperti ini, kemauan si manajemen pemilik usaha yang mewajibkan seragam minim bahan itu pun pastinya mau atau tak mau akan terpaksa mereka ikuti. Karenanya mereka pun berusaha meminimalisasi keseksiannya dengan memakai stocking. Lagipula kebanyakan dari mereka bekerja karena berusaha membantu perekonomian keluarga. Toh mereka tetap tidak melupakan kewajiban shalat lima waktu walaupun harus berepot-repot ria melepas dan memakai stocking setiap kali akan berwudhu.

Dan karena politik pencitraan yang berhasil disampaikan lewat atribut kemusliman itu, para paranormal televisi, beramai-ramai memakai surban. Dengan memakai surban, kesan yang diharapkan bisa didapat oleh para penonton adalah praktek yang mereka lakukan cukup islami, buktinya yang melakukan itu bersurban. Di Indonesia ini, kebetulan surban adalah sebuah atribut yang sering diidentikan dengan atribut yang dipakai oleh mereka yang pendalaman agamanya mumpuni, seperti para ulama misalnya. Padahal bila kita pergi ke Arab Saudi, para kuli angkut di sana pun kebanyakan memakai surban. Di sana, surban tidak memberikan pencitraan apa pun.

Akhir-akhir ini atribut kemusliman sepertinya banyak disalahgunakan orang sebagai politik pencitraan yang semu. Mereka yang mempunyai “borok sosial” berusaha menyembunyikan kecacatan mereka di balik topeng atribut yang juga merupakan ikon kesalehan. Para koruptor itu pun beramai-ramai berusaha mencitrakan diri mereka saleh melalui pakaian yang dikenakan dan bila perlu terlihat aktif di organisasi yang berbau keislaman. Sedih memang, tapi itulah kenyataan dari penyalahgunaan sebuah atribut kemusliman demi sebuah citra. Dan terus terang, saya cuma bisa bilang, “Kok tega yaaaa…???”

One thought on “Ikon Kesalehan dan Sebuah Pencitraan

  1. kebetulan nih..ada kuliah “pengolahan data citra”, untuk citra ini sebetulnya terserah yang pegang donk mau dibuat abu2, bluur, atau putih..ga masalah..kan ada masternya yang suka dijuluki pakar “telematika” eh “pornomatika” ding. Sama prinsipnya dengan manusia koq, kalo mo citra baik tinggal geser aja kursornya..,dan tinggal tunggu aja yang namanya citra buatan pasti akan luntur dengan sendirinya…

    hehe…(mesti ra nyambung blash..)

    Makhluk Maniez aka Munyuk Mentel replies:

    Iya Om bener, tapi kok tetep aja tegaaaa menggunakan simbol agama demi kepentingan diri sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s