Mainan Baru itu Perlu


Dulu saya tak terlalu peduli dengan kamera. Kamera apapun asalkan digital dan imut sehingga mudah dibawa sudah cukup buat saya. Masalah dengan kamera mulai terasa saat mendapat tugas untuk meliput sebuah event dari kantor (kok ya percaya-percayanya tho kepada dirikyuh ini… ) Dengan dibekali kamera Canon 20D (yang ukurannya serius gede) dengan lensa mati (lengkap sudeh tak de gune selain geda doangan), saya pun berangkat ke medan laga liputan. Di sana pastinya sudah berkumpul para wartawan foto yang notabene pria dan berukuran besar-besar, kalaupun ada wanita, paling cuma reporter tv atau wartawan tulis, bukan merangkap fotografer.

Daaannnn…..damdaradamdam…. acara puncak pun tiba, saat narasumber maju untuk diambil gambarnya, para wartawan foto yang besar-besar itu langsung merapat ke depan narasumber membuat saya cuma bisa bengong di belakang mereka dan melihat punggung-punggung mereka. Ya iyalah, saya langsung tersingkir pastinya. Ikut berdesakan? Ih tak usah yeee, emanknye aye perempuan apaan? Waktu zaman Nabi Musa, puteri-puteri Nabi Syuaib lebih baik menunggu para pria selesai mengambil air di sumur, barulah mereka mendekati sumur untuk mengambil air bagi kambing-kambing mereka. Itu dikarenakan mereka tak mau berdesakan dengan yang bukan muhrim.

Nah akhirnya saya pun mencoba mengangkat kamera saya tinggi-tinggi untuk mengambil gambar dari atas. “Jepret” Lalu saya lihat hasilnya di layar. Whhhaaaaa….. Kepala para narasumber itu kok pada gak keambil… Sukses kepotong semua wakakakakak….. Ya iyalah, secara eike kan bukan fotografer, gak terbiasa mengambil gambar tanpa melihat layar LCD atau pun tanpa melihat lewat lubang bidik. Ya begonolah hasilnya. Asli, padahal kalo liat di tv, tuh para juru foto enak aja mengkeataskan kamera dan jepret. Jadi deh.

Tapi, saat itulah saat yang kata orang bule aha moment. Saat itu adalah saya akhirnya memutuskan untuk membeli kamera yang layar LCDnya bisa dibelokkan sehingga walaupun kamera jauh di atas kepala saya, saya masih tetap bisa mengontrol gambar karena layar LCDnya bisa dibengkokkan ke arah bawah.

Setelah bertanya kesana kemari, diskusi dengan orang-orang yang memang pakar di bidang fotografi (dan juga setelah diledek habis-habisan sama teman-teman kantor karena keputusan tak juga diambil-ambil setelah sekian lama), akhirnya saya memutuskan untuk membeli Canon 600D. Kok yang 600D bukan yang sekalian aja 650D atau yang 700D? Ya simpel aja sih, yang 650D kebetulan sudah discontinue dan yang 700D harganya masih terlalu besar buat saya hehehehe….. Jadi ya udah, memilih seri yang agak sesuai dengan kantonglah. Secara kartu kredit limitnya juga dah abis, jadi karena mesti beli tunai (sombong terselubung), ya mesti dipilih yang agak murah tapi pastinya bukan murahan (ceileeeee…. bahasanya iklan sekali). Lagipula Canon 600D ini memang cocok untuk pemula seperti saya, fotografer dadakan yang berubah pegangan dari digital pocket camera ke DSLR.

Ini hasil gambar yang diambil dengan Canon 600D.

Gambar

Yah namanya juga pemula, belajarnya otodidak. Dilepas ke medan liputan, trus dicela-cela begitu liat hasilnya (oalaaahh nasiibbb mbokkeeeeee….). Tapi sayah orang yang tak mudah berputus asa, tetap terus memoto walaupun sering hasilnya miring-miring kek di bawah inih:

Gambar

Tapi yaaaa lumayanlah yaaa…buat new kids on the blog wuehehehhehe….. Nih pamer foto satu lagi.

Gambar

Btw, ternyata sayah kok seneng bangets foto miring-miring yak? Semoga foto miring ini gak ada kaitannya sama sekali dengan otak pemotretnya qiqiqiqii……

 Mempunyai kamera Canon 600D cukup membanggakan walaupun sudah keluaran tahun kemarin.  Saat saya ke Malaysia, dan ngobrol dengan salah satu COO sebuah shopping mal utama di Malaysia, dia mengaku kalau kamera yang dimilikinya pun sama seperti saya. Nyaman karena layar LCD yang bisa diputar-putar sesuai sudut pengambilan gambar. Bedanya dia beli dengan harga $1000, yang kalau di Indonesia gak sampai segitu.

Jadi itulah sekarang mainan saya. Kamera level pemula tapi hasilnya tak mengecewakan untuk pengiring artikel di media cetak. Walaupun di media yang lain, foto yang saya pernah ambil dari kamera saku digital juga pernah dimuat. Hasilnya pun cukup bagus dan tidak pecah. Warnanya juga cukup terang dengan ukuran setengah halaman.  Tapi sekarang saya tak bisa lagi memakai kamera saku saya itu, karena ketika event dalam ruangan dengan cahaya yang kurang, ya udah kelaaaarrrr tuh gambar.

3 thoughts on “Mainan Baru itu Perlu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s